
Foto Berita: Kemenag Barito Utara Dampingi Umat Hindu Kaharingan Laksanakan Ritual Basarah Pitra Yadnya di Desa SangkorangDipublikasikan 23 Juli 2026
Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Utara terus berkomitmen memberikan pembinaan dan pelayanan keagamaan kepada seluruh umat beragama. Melalui Penyelenggara Hindu Kemenag Barito Utara, Wandi, S.H., AH., bersama Guru Agama Hindu Mama Almiance, S.Pd.AH., Anti, S.Ag. (Ketua Majelis Resort Agama Hindu Kaharingan Kecamatan Gunung Timang), Pisor Jeriweni, Herminati, serta Nuna Alpina, S.Pd., melaksanakan kegiatan pembinaan kepada umat Hindu Kaharingan di Desa Sangkorang, Rabu (22/7/2026).
Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam rangka mendampingi umat pada pelaksanaan persembahyangan/Basarah Pitra Yadnya, yaitu ritual Pinjem Apui Nateng (Tantulak Ambun Rutas Matei) bagi almarhumah Ibu Surtiani, yang telah meninggal dunia tujuh hari sebelumnya. Kehadiran jajaran Kementerian Agama bersama tokoh agama dan pendidik Hindu menjadi bentuk pelayanan sekaligus pembinaan agar pelaksanaan ritual keagamaan berlangsung sesuai dengan ajaran dan nilai-nilai luhur agama Hindu Kaharingan.
Dalam tradisi Hindu Kaharingan, ritual Pinjem Apui Nateng atau Tantulak Ambun Rutas Matei merupakan salah satu rangkaian upacara yang memiliki makna mendalam. Upacara ini bertujuan untuk melakukan pembersihan lingkungan rumah dan seluruh anggota keluarga dari segala bentuk pantangan, kesialan, maupun pengaruh yang diyakini timbul akibat adanya peristiwa kematian di tengah keluarga. Ritual tersebut menjadi simbol penyucian diri sekaligus permohonan agar kehidupan keluarga yang ditinggalkan kembali memperoleh keseimbangan, ketenteraman, dan perlindungan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Selain prosesi pembersihan, keluarga almarhumah juga mempersembahkan sesajen (Ancak Kelangkang) sebagai bagian dari kewajiban spiritual untuk mendoakan almarhumah. Persembahan tersebut dimaknai sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur yang telah berpulang sekaligus ungkapan kasih sayang dan doa agar almarhumah memperoleh kedamaian, terlepas dari segala penderitaan maupun akibat dari perbuatan yang kurang baik semasa hidupnya, serta mendapatkan jalan menuju alam yang lebih baik sesuai dengan ajaran Hindu Kaharingan.
Rangkaian ritual juga diisi dengan doa bersama sebagai bentuk permohonan Wara Nugraha, yaitu memohon keselamatan, kesehatan, kedamaian, dan perlindungan bagi seluruh anggota keluarga yang masih hidup. Nilai-nilai kebersamaan, gotong royong, dan penghormatan kepada leluhur tampak begitu kuat dalam pelaksanaan upacara tersebut, di mana masyarakat sekitar turut hadir memberikan dukungan moral dan spiritual kepada keluarga yang sedang berduka.
Penyelenggara Hindu Kemenag Barito Utara, Wandi, S.H., AH., menyampaikan bahwa kehadiran Kementerian Agama dalam setiap kegiatan keagamaan masyarakat merupakan bagian dari tugas pembinaan umat sekaligus upaya menjaga kelestarian tradisi dan nilai-nilai budaya keagamaan yang diwariskan secara turun-temurun. Menurutnya, ritual keagamaan seperti Basarah Pitra Yadnya tidak hanya memiliki dimensi spiritual, tetapi juga mempererat hubungan kekeluargaan, memperkuat solidaritas sosial, serta menjadi sarana pendidikan nilai-nilai religius kepada generasi muda.
Melalui kegiatan pembinaan ini, Kantor Kementerian Agama Kabupaten Barito Utara berharap umat Hindu Kaharingan dapat terus melestarikan tradisi keagamaan yang sarat makna dengan tetap berpedoman pada ajaran agama dan nilai-nilai kebersamaan. Kementerian Agama juga berkomitmen untuk terus menghadirkan pelayanan dan pembinaan yang inklusif, sehingga kehidupan beragama di Kabupaten Barito Utara semakin harmonis, rukun, serta mampu memperkuat moderasi beragama di tengah masyarakat yang majemuk.
Apa pendapat Anda tentang artikel ini?
Berikan reaksi Anda di bawah ini





